Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Posted by pejalan on May 21, '07 1:48 AM for everyone
Front Pembela Islam (FPI) tampaknya mulai menyadari peran weblog sebagai media yang efektif untuk memuluskan perjuangannya menegakkan syariat Islam di Indonesia. Barangkali, oleh karena itulah mereka membuat blog http://fpi-online.blogspot.com. Blog ini berisi berita seputar kegiatan FPI yang sebelumnya pernah dimuat di media lokal maupun mancanegara.
Tapi sebentar dulu, benarkah blog http://fpi-online.blogspot.com dibuat oleh anggota FPI atau simpatisannya. Bisa jadi malah sebaliknya, blog itu dibuat oleh oknum yang tidak senang terhadap FPI. Siapa tahu blog itu justru diniatkan untuk menyebarkan black campaign, untuk menjatuhkan nama FPI. Who knows?

“Saya tidak tahu pasti blog itu benar-benar milik FPI. Kesan yang saya dapatkan setelah berkunjung ke sana adalah, blog ini justru dibikin untuk memperolok FPI. Dari kalimat deskripsinya, sidebarnya, foto-fotonya, terlebih lagi footernya (arabia - apa pula itu?!) semuanya terkesan menjelek-jelekkan FPI. Mirip Roy Suryo Watch,” tulis Ikram Putra di milis jurnalisme-sastrawi.

Roy Suryo Watch yang dimaksudkan adalah sebuah situs yang dibuat untuk menyanggah komentar-komentar Roy Suryo, sang pakar telematika, di beberapa media massa. Situs tersebut saat ini sudah tak bisa diakses lagi. Namun, perjalanan polemik yang berlangsung dua tahun lalu itu bisa disimak diblog Priyadi.

“Dan itu pun tidak perlu diherankan. Tidakkah kita sudah sering dengar black campaign?,” tambah Ikram.
Menurut Ikram, Black campaign adalah kampanye menjelek-jelekkan,
memperolok, yang dilakukan orang tanpa identitas jelas. Bisa anonim,
atau bisa pula pseudonym. Ia berbeda dengan negative campaign, yakni kegiatan kampanye dengan menunjukkan kekurangan lawan. Dilakukan dengan terbuka atau ada pihak pembuat yang jelas. Dan menurutnya hal ini wajar-wajar saja.
Kejanggalan juga dirasakan oleh Ook Nugroho. Ia menulis tanggapannya atas blog FPI itu di blognya. Seperti kebanyakan blog, situs FPI, menurut Ook tampaknya sengaja didesain untuk bisa interaktif. Pengelola menyediakan shoutbox yang isinya justru lebih banyak memuat kecaman. Situs itu juga dilengkapi tool sitemeter, terdaftar di technorati, dan juga dilengkapi pernak-pernik yang sekarang sedang popular, yakni mybloglog.

"Ah, kalau saja jalan ngeblog ini bisa lebih menjadi prioritas mereka ketimbang model rame-rame yang nakutin orang dengan topeng ala ninja dan pedang samurai bikinan Tanah Abang, kita—maksudnya saya—pasti bisa lebih respek pada “perjuangan” mereka, betapa pun jauh dan berbedanya garis perjuangan kami," tulis Ook di blognya.

Satu hal lagi yang barangkali sulit untuk dipercaya, di blog FPI ini dipasang Google Adsense, sebuah layanan iklan berbayar yang berkantor pusat di Amerika Serikat. Bukankah FPI yang dikenal oleh masyarakat luas anti terhadap segala produk yang berbau Barat, produk AS dan sekutunya. Apakah FPI hendak menggunakan dana kompensasi yang didapat dari Google Adsense untuk kegiatan jihad mereka?

Selain yang sudah disampaikan, masih ada kejanggalan-kejanggalan lain dari blog FPI itu. Pada halaman sidebar dicantumkan beberapa link yang “haram” dibuka. Bukankah ini hal yang aneh. Logikanya, jika pengelola blog FPI melarang link itu untuk dibuka, mengapa dicantumkan? Ada juga himbauan untuk tidak mengisi petisi anti FPI, namun linknya dipasang di sidebar. “Berani mengisi, masuk neraka,” bunyi ancamannya. Kedengarannya, kalimat ini lebih mirip “ejekan” ketimbang “larangan”, bukan?

Untuk melacak status kepemilikan blog FPI itu, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengelola blog via email yang saya dapatkan dari halaman profil. Mulanya saya mengusulkan untuk mewawancarainya via Yahoo Messenger (YM). Namun pengelola mengaku tidak memiliki YM. “Lewat email saja ya? Ana tidak punya ym..” jawabnya singkat.

“Ana bukan anggota FPI, hanya simpatisan sahaja. Blog ini ana dedikasikan untuk FPI yang berjuang untuk menegakkan Syariat Islam di Indonesia seperti halnya ana dan sohib-sohib ana yang tersebar dimana-mana. Jadi semacam 'un-official weblog' FPI.Ana sendiri dengar selentingan kabar kalau FPI akan membuat situs sendiri, dalam bentuk website,” jawabnya menanggapi pertanyaan yang saya kirim ke emailnya, indonebia@yahoo.com.

Soal dugaan adanya black campaign dari blog FPI itu, pengelola tak menolak, pun tak mengiyakannya. Menurutnya ia sekadar mengumpulkan informasi tentang kegiatan FPI. Tujuannya, agar orang yang ingin mencari info tentang FPI di internet lebih mudah.

“Biarkan siapa sahaja bisa berkomentar, karena media massa sendiri sering menjelek-jelekkan FPI. Pernak-pernik di weblog kami hanya sekadar penghias belaka, tak kurang tak lebih. Sekali lagi, ini sifatnya temporer sahaja,” jawabnya.

****

PENGELOLA blog FPI mengaku pemilik blog http://indonebia.blogspot.com. Dari perbincangan di beberapa milis, Indonebia diketahui sebagai seorang tokoh parodi FPI di dunia maya yang malang-melintang di berbagai milis. Penulusuran dilanjutkan dengan melacak beberapa link “terlarang” yang justru dicantumkan diblog. Salah satu link itu adalah http://zamanku.blogspot.com. Namun link-link “haram” itu kini sudah dicopot dari blog oleh pengelola.

Saya membuka fasilitas mybloglog yang ada diblog http://zamanku.blogspot.com (http://www.mybloglog.com/buzz/community/mediacare). Dari sini diketahui bahwa pengelola blog Zamanku juga mengelola blog http://mediacare.blogspot.com dan jaringannya yang jumlahnya mencapai 39 buah blog. Sebuah jumlah yang sangat fantantis. Uniknya di anggota komunitas blog mediacare yang ada di mybloglog itu dicantumkan dicantumkan blog indonebia dan FPI online. Mereka musuh atau kawan Mediacare?

Saya mulai curiga, jangan-jangan blog FPI Online, yang mengaku pemilik blog Indonebia itu, juga pengelola blog mediacare?

Untuk membuktikannya, saya menyocokkan identitas (id) Google Adsense blog FPI online, Zamanku, dan Mediacare. Hasilnya tidak jauh meleset dari dugaan. Tiga blog itu ternyata memiliki id adsense yang sama. Id ketiga blog itu adalah "5604202362132912".

Mendapati informasi ini, saya mengonfirmasikannya ke pengelola blog FPI Online. Dalam email saya sampaikan bahwa saya menemukan id yang sama pada blog FPI online dan Zamanku, blog yang dilarang dibuka oleh pengelola FPI. Kepadanya saya juga menyampaikan, dari blog Zamanku diketahui pengelola blog ini juga mengelola blog Mediacare.

Lalu, apa motivasi pengelola, adakah skenario untuk menjatuhkan FPI atau mengadu domba Islam. Jika tidak, apakah yang dilakukannya ini sebenarnya untuk bisnis internet, seperti yang dilakukan oleh para blogger yang copy-paste artikel, membuat blog dalam jumlah yang banyak, untuk menjerat pundi-pundi Google Adsense?

Pada email yang ketiga ini, pengelola Blog FPI kembali menyampaikan bahwa apa yang dilakukannya sekadar mengumpulkan berita-berita tentang aktivitas FPI agar lebih mudah diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.

“Kalo ‘black campaign’ ya tidaklah. Ana kan tidak ngarang-ngarang cerita dengan memutar-balikkan fakta tentang FPI. Ana sekadar mencuplik dari berita-berita di media massa, baik terbitan Indonesia maupun asing. Ana tidak mengurangi juga tidak nambah-nambahi. Mungkin lebih tepat disebut ‘un-official blog’ FPI. Kan di description juga ana cantumkan bahwa ana pendukung tegaknya syariat Islam di Indonesia, tapi ana tidak menyebut sebagai anggota FPI,” jawabnya.
Menurutnya, selama ini belum ada media massa di Indonesia yang berani memberitakan kegiatan FPI secara positif.

“Media bernuansa Islam macam Republika, Hidayatullah, Eramuslim dan lainnya saja jaga jarak kok, malah mereka lebih baik tidak memuatnya. Sedangkan nama FPI kan kebanyakan muncul kalo ada kericuhan dan lain-lainnya,” tambahnya.
Pengelola blog FPI sepertinya keberatan disebut telah melakukan black campaign. Pertanyannya, kalau pemilik blog FPI tersebut memang benar-benar pendukung tegaknya syariat islam, simpati dengan perjuangan FPI, kenapa dia juga menyediakan link-link ke situs yang bertentangan dengan misinya itu dan anehnya link ke blog terlarang itu justru juga dibuat oleh pengelola yang sama. Dia membuat blog FPI, tapi juga membuat blog tandingannya?
Lalu apa yang lebih tepat untuk menyebut aktivitas yang dilakukan blogger yang mengelola FPI Online, Zamanku, dan Mediacare itu jika yang bersangkutan keberatan disebut telah melakukan black compaign. Blogger kurang kerjaankah, atau blogger usil?

*****

SIAPAKAH sebenarnya jati diri pengelola blog FPI online yang memiliki id adsense yang sama dengan blog Zamanku, dan blog-blog jaringan Mediacare itu?

“Soal yang lain-lain, maaf ana tak perlu jawab. Biarkan ana tetap ber-id Indonebia,” jawabnya mengakhiri email yang ketiga kalinya saya kirim itu.

Seperti sudah disampaikan, Indonebia diduga tokoh parodi FPI yang malang melintang di berbagai milis. Sekarang, siapa pengelola blog Mediacare?

Dalam posting blog Mediacare berjudul “Duka Cita Chrisye, Badai pasti Berlalu” disampaikan bahwa pengelola atas nama “Radityo Djajoeri” turut berduka cita atas meninggalnya Chrisye. Nama Radityo Djajoeri ini juga masih bisa dilacak di mesin pencari blogger dan technorati dengan tag Mediacare. Saya sudah menanyakan ini dalam email wawancara, benarkah Radityo Djajoeri tokoh Indonebia. Tapi Indonebia tak menjawabnya. Dia minta “biarlah saya ber-id indonebia”.

Dari blog Media-Jakarta (http://media-jakarta.blogspot.com) yang merupakan blog jaringan Mediacare, dicantumkan kontak telpon Radityo Djajoeri: 0817-98022XX atau (021) 790-28XX. Saya menelpon kedua nomor itu. Pertama saya menelpon nomor ponsel, tapi tak ada yang mengangkat. Kemudian saya telpon nomor yang kedua, dijawab oleh suara seorang laki-laki.

“Saya bukan Radityo….”
“Saya dapat nomor ini diblog Media Jakarta, jaringan blog Mediacare. Nomor ini dicantumkan di sana atas nama Radityo Djajoeri. Saya ada perlu sama dia….”
“Wah nggak tahu ya. Tut…tut.……..”

Meski tidak ada pengakuan dari Indonebia bahwa dirinya adalah Radityo Djajoeri, dari hasil penelusuran yang sudah dipaparkan itu, tanpa pengakuan Indonebia pun sebenarnya sudah cukup jelas: Radityo Djajoeri adalah pengelola blog FPI Online yang mengaku Indonebia itu. Jika tidak, kenapa dia tak mengklarifikasi dugaan saya bahwa Indonebia itu adalah Radityo, seperti yang saya kirim dalam wawancara yang ketiga?

****

Dari cerita di beberapa milis, Radityo Djajoeri pernah dikeluarkan dari milis Jurnalisme. Farid Gaban, moderator milis Jurnalisme menyampaikan di milis bahwa Indonebia itu tak lain tokoh yang diperankan oleh Radityo Djajoeri. Selain Indonebia, Radityo juga punya Id lain, yakni Reporter Jalanan (Reja) yang kemudian juga menyusul dikeluarkan di milis yang sama. Siapakah Radityo Djajoeri itu? Adakah nama ini benar adanya, atau ternyata sama saja seperti Indonebia, nama "samaran" petualang dunia maya?

“Aku tak kenal Radityo. Tapi namanya memang malang melintang di dunia milis,” tulis Tomi Satryatomo mengomentari tulisan di multiply saya. Tomi adalah Executive Editor-Current Affairs & Features di ASTRO TV. Sebelumnya dia adalah News Producer di Trans TV.

Dalam posting di blog Insidekompas, pengelola blog mengaku kedatangan tamu istimewa dan dikagumi. Tamu istimewa itu adalah Radityo Djajoeri, pengelola blog Mediacare, blog yang mengupas isu media dalam dan luar negeri? Kok faktanya berlawanan, Radityo alias Indonebia di mata pengelola blog “Pecinta Kompas” dianggap sebagai tamu terhormat, blogger istimewa, apakah benar demikian, ataukah pengelola blog Inside Kompas itu tidak mengetahui sepak terjangnya di dunia maya? Atau jangan-jangan, pengelola blog Inside Kompas ini adalah Indonebia alias Radityo Djajoeri sendiri? Kalau benar, ada berapa blog yang dikelola oleh sosok misterius ini?

Untuk mengetahui bagaimana sikap FPI atas blog FPI online, saya menghubungi kantor pusat FPI seperti yang dicantumkan dalam blog FPI Online tersebut. Ternyata nomor itu benar alamat telepon FPI pusat. Oleh seorang perempuan yang menerima telpon, saya disarankan menghubungi Irwan Arsidi.

“Untuk urusan ini, silakan tanya kepada pak Irwan. Dia sekretarisnya Habieb,” jawabnya. Habieb yang dimaksud adalah Habib Rizieq, Ketua Umum FPI.

Dari percakapan telpon dengan Irwan, tampak kesan dia sosok yang ramah. Malam itu dia bilang sedang menemani putra habib Rizieq jalan-jalan.

“Kita sudah mendengar kabar itu. Namun kita nggak mempermasalahkan. Blog itu malah bisa mempublikasikan kegiatan-kegiatan FPI,” jawabnya.

Tidakkah FPI menganggap blog itu sebagai black campaign?

“Selama ini kita masih melihat sisi positifnya. Kita biarkan saja dulu, baru kalau sudah terlalu memojokkan FPI, kita akan bertindak,” jawab sekretaris Badan Investigasi FPI itu.

Menurutnya, kasus semacam ini sudah beberapa kali terjadi. Irwan mengaku tidak mengetahui siapa yang membuat blog FPI itu. Ia menduga hal itu dilakukan oleh orang-orang yang simpati terhadap FPI. Sebelumnya FPI pernah memiliki website, namun dirusak oleh hacker.

“Dalam waktu dekat, Insya Alloh bulan depan kita akan punya website. Rencananya akan pakai domain org,” jawabnya.

Apa yang dilakukan oleh sosok anonim bernama "Indonebia", pengelola blog FPI Online, atau sosok yang sama bernama “Radityo Djajoeri” pengelola blog Mediacare, menarik untuk dicermati. Dua nama yang diduga kuat satu oknum yang sama ini malang melintang di berbagai milis dan dia juga memiliki banyak blog. Siapakah dia sebenarnya, untuk apa dan siapa dia melakukan itu semua, tidakkah semua yang dilakukan itu sebuah pekerjaan yang melelahkan?

Namun demikian, jika benar blog itu diniatkan untuk menyebarkan black campaign, toh oleh FPI justru ditanggapi positif. Blog FPI Online ini dikatakan Irwan dapat membantu mempublikasikan kegiatan FPI yang tak banyak diekspose oleh media massa.
Benarkah kehadiran blog FPI Online itu menguntungkan FPI, atau FPI saja yang ceroboh tak mengetahui siapa sebenarnya pengelola blog yang di beberapa forum justru kerap mendeskriditkan FPI dan rekan-rekan seperjuangannya yang hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia?

Tulisan ini dimuat di http://hanyaudin.blogspot.com

[tulisan ini dimuat di http://gaya.suaramerdeka.com atau http://blog.suaramerdeka.com ]

wisat wrote on May 21, '07
Catatan menarik. Bukankah pengelola mediacare itu berjuluk Radityo Djajoeri? Farid Gaban pernah menelusuri dan menemukan bahwa Indonebia itu nama lain dari Radityo.

Aku tak kenal Radityo. Tapi namanya memang malang melintang di dunia milis.
sulhanudin wrote on May 22, '07
Mulanya saya tak menyebutkan nama Radityo karena memang narasumber tak ingin disebut dengan nama itu. Namun karena pertimbangan satu dan lan hal, untuk kemaslahatan bersama, saya buka jatidiri Radityo.

Trims, Bung Tomi atas masukannya. Saya sudah merevisinya, dan sekalian mengutip komentar anda untuk tulisan saya ini.
latief wrote on May 23, '07
radityo itu betul ada.
Anak metro pernah menelpon dia, setelah ia atas nama ReJa menjelek2kan metro hasil wawancara (semu) dgn seseorang karyawan metro...
Bravo....
Semoga jika indonebia posting, tak ada yg menanggapi.
Saya pernah mem-forward temuan Andreas dan Farid soal siapa indonebia di milis pantau, ke milis mediacare, tidak di-approve..
mrnoxious wrote on Dec 23, '07
Mas, ikutan posting tulisannya disini ya

http://mrnoxious.multiply.com/journal/item/114

Plus fotonya Radityo....
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
banciokno wrote on Nov 10, '08






anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing
....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing....anjing

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

Perbedaan Dalam Islam

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

1. Cara Ibadah

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.
* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.
* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.
* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.
* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

2. Mesjid

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.
* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

Apa yang salah dengan Islam?

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

Hukum Alam

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

replyplayboyislam wrote on Mar 20
Nabi Muhammad Akan Menangis

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

Perbedaan Dalam Islam

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

1. Cara Ibadah

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.
* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.
* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.
* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.
* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

2. Mesjid

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.
* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

Apa yang salah dengan Islam?

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

Hukum Alam

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

replyplayboyislam wrote on Mar 20
Nabi Muhammad Akan Menangis

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.





Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

Perbedaan Dalam Islam

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

1. Cara Ibadah

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.
* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.
* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.
* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.
* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

2. Mesjid

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.
* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

Apa yang salah dengan Islam?

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

Hukum Alam

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

replyplayboyislam wrote on Mar 20
Nabi Muhammad Akan Menangis

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

Semenjak masuknya pasukan Amerika di tanah Irak, persaingan dan kebencian antara dua aliran terbesar di agama Islam menjadi begitu nyata dan semakin meruncing. Dengan semakin rumitnya kondisi perang di Irak, munculnya intrik di antara dua kubu tersebut membuat Islam sebagai sebuah agama menjadi semakin terekspos dan terpojok. Mengapa umat Islam harus saling bermusuhan?

Mari kita lihat sejarah bagaimana permusuhan ini terjadi. Suni dan Syiah. Saat ini, sekitar 90% umat muslim di dunia adalah penganut aliran Suni termasuk Indonesia di dalamnya. Sepuluh persen sisanya adalah umat muslim aliran Syiah yang terpusat di Iran. Beberapa negara di era modern lain yang memiliki mayoritas umat muslim Syiah adalah Irak, Bahrain dan Azerbaijan. Sementara negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, dan Lebanon memiliki kaum Syiah sebagai golongan minoritas. Mengapa ada Islam aliran Suni dan Syiah?

Perbedaan Dalam Islam

Untuk menjawabnya kita harus kembali menengok sejarah Islam setelah peninggalan Nabi Muhammad. Perpecahan dalam agama Islam terjadi pada tahun 632 beberapa waktu setelah Nabi Muhammad meninggal dunia. Nabi Muhammad meninggal tanpa sebelumnya menunjuk siapa pemimpin umat Islam sepeninggal Beliau. Beberapa pengikutnya percaya bahwa Khalifah harus diberikan kepada keturunan Nabi Muhammad dimulai dengan saudara sepupunya yang juga anak menantu yaitu Ali bin Abi Talib. Sementara mayoritas pengikut Nabi Muhammad mendukung sahabat Nabi Abu Bakar untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Walau Ali tidak menjadi penerus Nabi Muhammad sebagai Khalifah pertama namun Ia akhirnya menjadi Khalifah keempat sebelum akhirnya Ia dibunuh di wilayah Kufa pada tahun 661 yang sekarang menjadi bagian dari Irak.

Perpecahan di dalam Islam akhirnya benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Ali bin Abi Talib. Mayoritas umat muslim mendukung Gubernur Suriah ketika itu Mu’awiyah dan putranya Yazid. Sementara pendukung Ali yang kemudian dikenal dengan sebutan Syiah mendukung putra Ali bernama Hussein. Kedua kubu ini akhirnya bertemu di medan perang di dekat wilayah yang sekarang bernama Karbala di Irak pada tanggal 10 Oktober 680. Di dalam perang tersebut konon katanya Hussein diculik dan kemudian dipenggal. Namun bukannya mematikan aliran Syiah, kematian Hussein justru dijadikan sebagai simbol martir oleh pendukungnya. Sosok Hussein dilihat sebagai seorang pemimpin yang adil dan sederhana yang berani berdiri menentang ketidakadilan. Hingga saat ini hari kematian Hussein diperingati oleh umat Syiah setiap tahunnya dan peringatan itu dikenal dengan nama Ashura. Pada hari peringatan itu umat Islam Syiah akan berjalan beramai-ramai sambil memukul-mukul dada mereka dan menangis histeris. Bagi umat yang fanatik peringatan Ashura dilakukan secara ektstrim dengan melukai badan mereka dengan cambuk atau bahkan pedang.

Dengan jumlah pendukung yang begitu besar tidak heran apabila Islam Suni lebih memiliki peran di percaturan politik dunia. Hanya Iran sebagai negara pusat Islam Syiah yang memiliki kekuatan politik mutlak di negaranya sendiri. Selebihnya Islam Suni selalu mampu memiliki kekuasaan politik lebih baik bahkan di negara-negara dengan mayoritas umat Islam Syiah dengan satu pengecualian yaitu Suriah dimana mayoritas penduduknya adalah muslim Suni namun sejak tahun 1970 pemerintah dikuasai oleh sekte kecil aliran Syiah yang disebut Alawi.

Time edisi 5 Maret 2007 memberikan beberapa perbedaan mencolok antara umat Islam Suni dan umat Islam Syiah di Irak. Perbedaan-perbedaan itu ditandai melalui nama mereka, cara ibadah, mesjid atau tempat ibadah, rumah mereka, aksen bahasa, serta stiker dan atribut yang menempel pada mobil-mobil mereka. Saya hanya akan menjelaskan dua perbedaan yaitu cara ibadah dan mesjid yang mereka gunakan karena dua elemen ini adalah yang paling mencolok untuk menggambarkan perbedaan muslim Suni dan Syiah di seluruh dunia.

1. Cara Ibadah

* Umat Suni melakukan ibadah sholat dengan satu tangan diletakkan diatas tangan yang lainnya di atas perut. Sementara penganut Syiah meletakkan kedua lengan lurus kebawah. Selama sholat umat Suni dan Syiah membungkuk dan sujud dan menyentuhkan kepala mereka ke tanah. Penganut Syiah yang taat menyentuh sebuah lempengan kecil terbuat dari tanah liat yang dibuat di kota suci Najaf.
* Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.
* Dalam melakukan adzan mesjid-mesjid Suni menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad. Sementara mesjid-mesjid Syiah menambahkan nama Ali di dalam adzan mereka. Adzan dari mesjid Syiah dilakukan beberapa menit setelah adzan dari mesjid Suni.
* Muslim Suni dan Syiah tidak pernah memiliki hari raya idul fitri pada hari yang sama.
* Perayaan hari kematian Ali yang disebut Ashura selalu dianggap sebagai perayaan yang tidak pantas oleh kalangan Suni

2. Mesjid

* Mesjid-mesjid Suni hampir selalu memiliki kubah dan terkadang juga memiliki menara yang tinggi. Sementara mesjid-mesjid Syiah atau tempat ibadah yang dinamakan Husseiniyas (gabungan antara fungsi mesjid dan pusat komunitas) tidak harus memiliki kubah. Tempat-tempat ibadah umat Islam Syiah dilengkapi dengan bendera berwarna hitam dan hijau serta ruangan di dalamnya diisi dengan gambar-gambar Ali dan terkadang Hussein. Di saat yang bersamaan mesjid-mesjid umat Islam Suni cenderung memiliki warna yang kalem dan pemajangan gambar-gambar tokoh manusia dianggap sebagai tindakan yang kurang pantas.
* Para pemuka Islam Syiah biasanya memakai baju kebesaran yang lebih bervariasi dalam segi warna dan desain (biasanya menggunakan penutup kepala berwarna putih, hitam, atau hijau) sementara pemuka Islam Suni hanya memakai penutup kepala berwarna putih.

Islam Adalah Agama Yang Anti Damai?

Pertanyaannya sekarang adalah, “Apakah perbedaan-perbedaan itu dapat dijadikan sebagai dasar untuk timbulnya rasa benci dan permusuhan?” “Apakah benar Islam adalah agama yang mencintai damai ataukah Islam merupakan Agama yang menyebarkan kebencian dan amarah yang meledak-ledak?” Apabila Anda seorang muslim yang sudah bertahun-tahun hidup di Indonesia atau bahkan Anda adalah seorang muslim yang telah menghabiskan seluruh hidup Anda di Indonesia maka Anda mungkin sangat tidak setuju dengan argumen yang berpendapat bahwa Islam adalah sebuah agama barbar yang mengajarkan kaumnya untuk membunuh orang kafir. Tapi bagaimana dengan masyarakat dunia Barat yang memiliki kaum Islam sebagai masyarakat minoritas yang gerak-geriknya selalu dicurigai? Apakah masyarakat dunia Barat salah apabila mereka memiliki anggapan negatif terhadap Islam dan pengikutnya? Apakah salah apabila mereka membenci kaum muslim dan agama Islam yang mereka anggap sebagai biang keladi terjadinya peristiwa sebelas September dan aksi teror di berbagai belahan dunia?

Menjadi muslim di Indonesia memang berbeda dibandingkan dengan menjadi muslim di sebuah negara di dunia Barat. Indonesia adalah surga bagi kaum muslim karena di sinilah lebih dari 200 juta umat muslim berdomisili dan berinteraksi antar sesama. Indonesia walau bukan sebuah negara Islam tapi merupakan negara dengan jumlah pengikut Islam terbesar di dunia. Umat muslim adalah golongan mayoritas sehingga Anda dengan mudah dapat meyakinkan banyak orang bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, no matter what! Tidak ada satu buku pun yang dijual di Gramedia atau Gunung Agung yang berisikan hal-hal buruk tentang Islam dan pengikutnya. Tidak ada satu penerbit pun yang berani mencetak dan memasarkan buku-buku seperti itu. Tapi jelas tidak seperti itu yang terjadi di negara-negara barat dimana kata Islam memiliki arti lain seperti teror dan aksi brutal.

Di salah satu jaringan toko buku terbesar di Amerika Serikat Barnes & Nobles dengan mudah ditemukan buku-buku tentang bagaimana Islam menindas perempuan di Afrika, bagaimana pejuang jihad menempelkan bom di tubuh mereka dan meledakkan pusat-pusat keramaian milik negara-negara Barat, atau juga bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk mencambuk pasangan yang melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Semuanya terlihat begitu kuno dan tidak masuk akal bagi mereka. Buku-buku seperti itu laris manis karena para pembaca di Amerika sangat penasaran untuk melihat wajah Islam yang sebenarnya setelah terjadinya peristiwa sebelas September. Bulan Februari yang lalu sebuah buku kontroversial tentang Islam diluncurkan ke publik Amerika yang ditulis oleh seorang aktivis hak asasi manusia yang selama ini terkenal kontroversial, Ayaan Hirsi Ali. Judul buku itu adalah Infidel. Infidel dalam bahasa inggris memiliki arti yaitu seseorang yang menentang Tuhan atau orang yang keluar dari ajaran agama, dalam budaya Islam kita mengenalnya dengan sebutan kafir.

Aryan Hirsi Ali lahir di Mogadishu, Somalia pada tanggal 13 November 1969 dan pada tahun 1992 Ia mendapatkan suaka politik dari Belanda. Ia mengambil sekolah hukum di Universitas Leiden dan menyelesaikan gelar masternya pada tahun 2000. Setelah lulus, Ia memutuskan untuk berkarir di dunia politik di Belanda dan sempat menjadi bagian dari Partai Sosial Demokrasi PvdA dan partai VVD. Karir politiknya di Belanda bisa dibilang cukup sukses namun sayang Ia akhirnya harus pergi meninggalkan Belanda pada tahun 2006 yang lalu setelah ditemukan bukti bahwa Aryan memperoleh suaka politik dari negara Belanda secara tidak sah. Saat ini Aryan hidup dan menetap di Amerika Serikat. Selama bergelut di dunia politik dan hak asasi manusia nama Aryan Hirsi Ali bisa dibilang cukup sensasional. Ia bahkan dinobatkan oleh majalah Time pada tahun 2005 sebagai salah satu dari 100 manusia paling berpengaruh di dunia. Aryan Hirsi Ali sangat terkenal lantaran keberaniannya dalam mengkritisi ajaran Islam, Nabi Muhammad, dan para tokoh Islam dunia. Pada tahun 2004 Ia menulis naskah sebuah film pendek berjudul Submission yang disutradarai oleh Theo Van Gogh. Film tersebut sangat provokatif bagi sebagian besar umat muslim dunia. Seorang perempuan dengan pakaian serba tertutup namun bagian depan tubuhnya hanya ditutupi oleh bahan transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya berbicara dalam bahasa inggris dan menceritakan bagaimana pengalaman sedihnya menjadi seorang perempuan di dalam keluarga Islam. Tokoh di dalam film itu digambarkan sebagai seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan di dalam Islam. Tubuhnya disiksa terus-menerus dan jiwanya disakiti tidak hanya oleh suaminya yang semena-mena namun juga oleh agama, budaya dan lingkungan sekitarnya. Film tersebut menjadi lebih provokatif karena ayat-ayat Al-Quran dituliskan di atas tubuh tokoh perempuan tersebut seolah-olah Islam membenarkan kekerasan yang dilakukan terhadap kaum perempuan di seluruh dunia. Film ini mendapat tentangan yang sangat hebat dari kalangan umat muslim dunia, bahkan sang sutradara akhirnya dibunuh oleh seorang ekstrimis pada tanggal 2 November 2004.

Saya sempat membaca buku Infidel karangan Aryan Hirsi Ali tersebut di dalam salah satu toko buku Barnes and Nobles di wilayah Maryland, Amerika Serikat. Saya sangat tertarik untuk membacanya karena judul dan topiknya yang cukup menggoda namun tidak berniat untuk membelinya karena saya sudah memiliki terlalu banyak buku yang belum sempat dibaca. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut duduk di atas karpet di sebelah sebuah rak yang penuh dengan buku-buku tebal seperti yang dilakukan oleh para pengunjung lainnya. Ketika itu saya hanya sempat membaca satu bab yang berjudul Leaving God atau meninggalkan Tuhan. Di dalam bab itu Aryan Hirsi Ali menggambarkan dirinya ketika berada dalam posisi yang limbung dan bingung. Ia mulai mempertanyakan kepercayaannya terhadap Tuhan dan agama yang selama ini Ia peluk. Setelah peristiwa sebelas September Ia merasa semakin tidak yakin akan Islam dan ajarannya, Aryan merasa sangat terganggu mengetahui fakta bahwa para pelaku pembajakan pesawat pada 11 September 2001 adalah penganut Islam dan mereka melakukan aksi teror itu atas nama Tuhan dan Islam. Akhirnya pada satu kesempatan di tahun 2003, Aryan Hirsi Ali menyadari bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang selama ini tertera di kartu identitasnya. “Aku seorang atheis,” ujarnya.

Selang beberapa hari saya kembali mengunjungi toko buku yang sama dengan maksud untuk melanjutkan bacaan saya. Namun setelah menghabiskan lebih dari 15 menit saya tidak kunjung menemukan buku yang saya cari, saya pun mendatangi salah seorang karyawan di toko tersebut dan menanyakan dimana mereka menempatkan buku yang sedang saya cari. Dengan senyum yang ramah seorang perempuan berumur 40-an berujar, “I’m so sorry but the book is sold out. New books are coming soon. But I’m so happy that you asked about the book, as a woman.” Perempuan tersebut dengan jelas mendukung buku yang ditulis Aryan Hirsi Ali dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk perjuangan perempuan melawan ketidakadilan. Ketidakadilan yang diciptakan oleh Islam! Pandangan perempuan ini bisa jadi mewakili pandangan berjuta-juta perempuan dan masyarakat dunia Barat terhadap Islam. Anda sebagai muslim di sebuah negara seperti Indonesia mungkin akan marah dan merasa terhina atas perlakuan dunia barat dalam memandang Islam dan ajarannya. Namun mungkin Anda juga dapat memahami bahwa pandangan yang mereka miliki merupakan suatu hal yang lumrah di dalam sebuah dunia dimana persamaan hak antar kaum pria dan perempuan begitu dijunjung tinggi dan kebebasan berbicara merupakan suatu kekayaan nasional yang dilindungi hukum. Ya, memang benar bahwa negara sebesar Amerika Serikat pun belum pernah memiliki seorang presiden perempuan setelah lebih dari 200 tahun masa kemerdekaan, namun di Amerika Serikat Anda tidak akan pernah bisa menemukan seorang pria beristrikan lebih dari dua orang membuat sebuah ajang penghargaan kepada para suami yang mempraktekan poligami!

Apa yang salah dengan Islam?

Bagi kalangan anti Islam seperti Aryan Hirsi Ali, kondisi yang terjadi di Irak saat ini atau kondisi di berbagai negara Islam dimana perempuan adalah manusia kelas dua bukanlah akibat rendahnya tingkat kesejahteraan dan pendidikan. Bagi mereka jawabannya terletak pada ajaran Islam itu sendiri. Mereka percaya bahwa memang ada yang salah dari ajaran Islam dan ajaran tersebut lah yang melakukan penindasan semena-mena terhadap berjuta-juta umat manusia di dunia. Sementara di lain sisi tokoh-tokoh Islam di kancah percaturan politik dunia selalu menggunakan kata welfare dan education sebagai alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa para pemuda di Palestina, Irak, dan Somalia begitu rentan akan hasutan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengangkat senjata dan melakukan aksi kekerasan.

Nama saya adalah Tasa Nugraza Barley dan saya dengan bangga menyatakan bahwa saya adalah seorang muslim. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah agama yang hebat ini. Walau hingga saat ini saya belum berani menyatakan bahwa diri saya adalah seorang yang religius tapi saya berani dan yakin mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan agama ini. Yang salah adalah kita sebagai umat yang menganutnya. Kita memang terlalu bodoh dan tidak mampu memanfaatkan kehebatan dari sebuah agama yang telah diturunkan oleh Tuhan ke dunia ini. Saya cukup yakin bahwa sesungguhnya nabi Muhammad memiliki maksud tersendiri untuk tidak menyebutkan siapa pengganti dirinya apabila beliau meninggal dunia. Mungkin alasan beliau melakukan itu adalah karena beliau tidak ingin Islam memiliki pemimpin sehingga membirokrasikan Islam dan menjadikannya sebagai sebuah alat untuk memperoleh kekuasaan. Mungkin Nabi Muhammad hanya ingin Islam menjadi sebuah way of life atau jalan hidup bagi setiap penganutnya dalam menjalankan aktifitas mereka sehari-hari. Mungkin nabi Muhammad tidak ingin Islam dijadikan sebagai sebuah alasan bagi terjadinya perebutan tahta dan pertumpahan darah demi memperoleh pengaruh dalam dunia Islam. Namun, kita umatnya justru saling membenci dan merepresentasikan ajaran Islam sedemikian rupa demi memperoleh keinginan kita masing-masing. Para pemimpin dalam dunia Islam tahu bahwa agama, budaya, politik, dan ekonomi adalah elemen-elemen kehidupan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya dan mereka seringkali memutarbalikannya sehingga para pengikut mereka jadi bimbang dan mudah dipengaruhi. Satu contoh bagaimana agama dan elemen-elemen lain dalam kehidupan saling mempengaruhi satu sama lain: Apakah pakaian terusan berwarna putih yang dipakai oleh para pria di daerah timur tengah adalah ajaran Islam? Apakah bahasa arab adalah bahasa Tuhan? Kalau Anda menjawab tidak, lalu mengapa para kyai dan ustads di Indonesia selalu menggunakan pakaian kebesaran bangsa Arab tersebut dalam memberikan ceramah mereka? Apakah dengan melakukan itu mereka dapat lebih dipercaya dan religius? Lalu kalau memang bahasa Arab bukanlah bahasa Islam atau bahasa Tuhan mengapa bahasa Arab dipandang begitu indah dan sakral? Mengapa anak-anak di sekolah dasar selalu diajarkan berdoa dalam bahasa Arab sebelum mereka makan atau tidur? Apakah Tuhan adalah seorang Arab? Keterkaitan agama dengan elemen-elemen lain di dunia seperti inilah yang sering kali digunakan oleh para pemimpin di dunia Islam dalam mempengaruhi umat muslim untuk mengikuti kemauan mereka.

Apabila Aryan Hirsi Ali dan para pendukung anti Islam percaya bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang salah maka saya setuju apabila kesejahteraan merupakan alasan paling rasional untuk menjawab pertanyaan mengapa begitu banyak umat muslim yang menjalankan kehidupan mereka dengan penuh kekerasan dan kemunafikan. Kenyataan bahwa begitu banyak negara Islam yang berada di bawah garis kemiskinan merupakan suatu contoh nyata mengapa begitu banyak kalangan yang merepresentasikan ajaran Islam secara salah. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa agama merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang dipengaruhi dan mempengaruhi unsur-unsur lainnya, maka perut yang lapar akan mempengaruhi seseorang dalam memandang agamanya. Begitu pula otak yang bodoh akan dengan mudah dihasut dan diperbudak oleh kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu.

Hukum Alam

Kemunduran Islam di seluruh dunia bisa jadi merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umat muslim. Ketidakberdayaan negara-negara Islam dalam pentas dunia memang terasa begitu memalukan bagi sebuah agama yang memiliki pengikut lebih dari 1,6 milliar orang. Negara-negara Islam di Afrika sudah sejak lama dianggap sebagai kumpulan orang bodoh yang tidak memiliki rasa kemanusiaan dan keadilan. Negara-negara Islam di Afrika sudah begitu lama terpuruk dalam kemiskinan dan perang saudara yang begitu menyedihkan. Negara-negara Islam di Asia juga tidak kalah bodohnya. Pakistan, sebuah negara yang menggunakan hukum Islam, di Asia Selatan jelas bukan sebuah negara Islam yang bisa dibanggakan. Saya kebetulan pernah hidup di Pakistan dari tahun 1997 hingga 2000, dan saya bisa yakinkan Anda bahwa Pakistan bukanlah sebuah negara yang patut dicontoh. Selama tiga tahun hidup di Pakistan yang saya tahu bagaimana Pakistan menjalankan hukum, yang katanya adalah hukum Islam, adalah bagaimana setiap harinya perempuan Pakistan disiksa dan dilecehkan. Perempuan menjadi manusia kelas dua di Pakistan, mereka tidak memperoleh hak yang setara hampir di seluruh aspek kehidupan di Pakistan. Sesuatu hal yang sangat ironis di sebuah negara yang menjadi salah satu dari sedikit negara-negara di dunia yang pernah memiliki seorang presiden perempuan. Pemerintah Pakistan menjalankan sistem pemerintahan yang bisa dibilang otoriterisme. Contohnya bisa dilihat bagaimana Presiden Pakistan saat ini Pervez Musharaf yang memperoleh kekuasaannya melalui proses kudeta tidak kunjung mau lengser padahal ketika baru menjadi presiden Ia berjanji bahwa kekuasaannya bersifat sementara dan akan segera menyelenggarakan pemilu. Saat ini Pakistan secara memalukan menjadi “budak” Amerika Serikat dalam memerangi terorisme di Afghanistan yang sayangnya juga merupakan sebuah negara Muslim. Sementara walau India memiliki jumlah umat muslim melebihi total umat muslim di Pakistan tapi jelas mereka tidak memiliki kekuatan di pemerintahan yang dikuasai oleh umat Hindu yang merupakan golongan mayoritas.

Hanya Malaysia di Asia Tenggara yang boleh bangga akan dirinya. Mereka sedang berkembang dan kehidupan masyarakat di Malaysia semakin lama semakin membaik. Indonesia? Saya kira saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Umat muslim di Indonesia sudah pasti termasuk umat muslim yang bodoh. Sementara negara-negara Islam di Timur Tengah dan kawasan Persia bisa dibilang sama saja. Mereka bodoh namun mereka begitu beruntung karena Tuhan memberikan kandungan minyak bumi yang berlimpah. Mereka bisa hidup dalam kehidupan yang begitu nyaman dan bisa dibilang sejahtera. Tapi mereka tetap saja bodoh. Hampir semua negara Islam di negara Arab dikuasai oleh pemerintah-pemerintah yang otoriter. Arab Saudi salah satu contohnya, keluarga kerajaan begitu berkuasa dan menjalankan kehidupan mereka secara berfoya-foya. Di saat yang bersamaan hanya Iran di di kawasan Persia yang mampu berdiri tegak dan bangga akan akan jati diri mereka. Iran semakin lama semakin mampu menunjukkan kemajuan pada kondisi politik dan pemerintahan mereka. Sistem politik yang dahulu begitu tertutup dan otoriter perlahan-lahan menjadi lebih terbuka dan demokrasi. Sementara tetangganya Irak seperti yang kita tahu semakin terperosok dan semakin jauh dari kesejahteraan.

Namun sayangnya dibalik kemajuan Iran dalam membangun kondisi politik dalam negeri yang lebih baik, Iran saat ini bisa dibilang secara aktif turut serta dalam proses perpecahan umat muslim di dunia. Iran membantu pemerintahan Irak yang saat ini dikuasai oleh golongan Syiah untuk melawan golongan Suni yang mendapat bantuan dari Arab Saudi. Golongan Syiah yang dahulu ditekan dan tidak mendapatkan hak yang seharusnya mereka dapatkan dibawah pemerintahan Saddam Hussein dikabarkan mendapatkan bantuan dana dan senjata dari pemerintah Iran yang ingin meningkatkan pengaruhnya di Irak. Sebuah perang yang mungkin dapat menyulut kebencian masa lalu antara bangsa Arab dan bangsa Persia. Kondisi ini membuat Amerika berada dalam posisi yang sulit karena janji untuk menciptakan sebuah negara Irak baru yang stabil menjadi sangat jauh dari kenyataan.

Di tahun 2007 ini tampaknya umat muslim belum bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu yang dekat. Negara-negara dunia Barat sudah begitu jauh meninggalkan kita. Penemuan-penemuan hebat di dunia tidak pernah lahir lagi dari pemikiran-pemikiran umat muslim. Mungkin umat muslim harus sabar untuk menunggu hukum alam berpihak kepada kita lagi.

Namun tanpa bermaksud untuk menerima begitu saja segala kekurangan yang umat muslim miliki, saya kira perlu dicermati bahwa dunia dan kehidupan ini selalu membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan inilah yang membuat hidup terasa begitu indah. Apabila ada yang naik maka pada saat yang bersamaan akan ada pula yang turun. Tuhan menciptakan warna hitam dan warna putih. Ada orang yang tinggi dan ada juga orang yang pendek. Semuanya saling mengisi kekosongan satu sama lain. Apabila dahulu Cina dikenal sebagai sebuah negara yang kuno dan tertutup maka bukan rahasia bahwa Cina sekarang telah berubah menjadi sebuah kekuatan ekonomi dunia yang membuat negara sebesar dan sehebat Amerika pun ketar-ketir. Roda kehidupan memang harus terus berjalan untuk memastikan bahwa dunia tetap berada dalam keseimbangan.

Begitu juga dengan kondisi Islam saat ini. Fakta sejarah membuktikan dunia Islam pernah berjaya pada tahun 711 hingga 1492 dengan menguasai sebuah kawasan yang begitu luas dari Spanyol hingga Portugal. Dahulu para ahli dan pemikir Islam begitu hebat dan terkenal dalam membentuk sebuah peradaban manusia. Mungkin saja kemunduran Islam pada abad ke-21 ini merupakan suatu hukum alam yang memang harus dialami oleh setiap umatnya. Pertanyaannya sekarang adalah, “Berapa lama kita mau berada di bawah?”

replyplayboyislam wrote on Mar 20
Nabi Muhammad Akan Menangis

Apabila Nabi Muhammad bisa turun dari langit saat ini dan melihat dunia beserta umatnya, Beliau pasti akan meneteskan air mata. Hatinya mungkin terasa begitu pedih dan perih melihat tanah Persia diserang oleh kekuatan Barat yang begitu semena-mena menindas atas nama demokrasi. Hatinya mungkin terasa begitu sakit melihat betapa negara-negara Muslim sangat tertinggal dari negara-negara Barat dan lainnya dalam bidang ekonomi, politik, ataupun teknologi. Tapi bukan karena melihat kondisi tersebut yang paling membuat hatinya begitu terluka amat dalam. Yang membuat hati nabi Muhammad begitu terluka hingga sulit bernapas adalah ketika Beliau melihat bahwa umat Muslim saling membenci dan saling memusuhi satu sama lain. Umatnya begitu bodoh!

Tengoklah cerita dari Irak, sebuah tanah Persia yang dulu merupakan sumber kejayaan Islam dengan segudang ahli-ahlinya di bidang astronomi, sastra, matematika, dan sebagainya. Ada dua daerah bernama Adhamiya dan Khadamiya. Adhamiya ditempati orang-orang aliran Suni dan Khadamiya merupakan tempat tinggal orang-orang aliran Syiah dimana kedua wilayah ini dipisahkan oleh sungai Tigris. Beberapa waktu yang lalu mortar diluncurkan dari wilayah Adhamiya ke wilayah Khadamiya sehingga menimbulkan kekacauan yang besar di kalangan orang-orang Syiah. Tidak lama berselang giliran orang-orang Syiah dari Khadamiyah yang meluncurkan peluru-peluru mortar mereka ke arah penduduk di Adhamiyah. Bunyi letusan peluru dan teriakan panik orang-orang di Adhamiya disambut dengan tawa dan luapan kegembiraan dari masyarakat Syiah di Khadamiyah. Kondisi yang kacau balau dan keamanan yang belum stabil akhirnya membuat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah tersebut ditutup oleh pihak yang berwenang. Cerita diatas merupakan gambaran kecil bagaimana umat muslim hidup dan berinteraksi antar sesama aliran di Irak.

Add a Comment